Pages

Subscribe Twitter
Tampilkan postingan dengan label Sepenggal Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepenggal Cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 November 2013

Subhanallah, Orang Ini Berjalan Ribuan Kilometer Untuk Naik Haji





Tujuannya sebagai seorang muslim sama dengan pemeluk Islam lainnya di seluruh dunia yakni menunaikan ibadah Haji. Setiap tahun seluruh umat muslim dari seluruh dunia menunaikan ibadah Haji. Dia berangkat dari Kota Banovici, sebelah timur laut Bosnia Herzegovina, Desember tahun lalu. Selama perjalanannya itu dia melewati enam negara, termasuk Turki, Yordania, dan Suriah, sebelum akhirnya memasuki Arab Saudi. Sebagai seorang Kristen profesor itu menjelaskan pada Hadzic dia merupakan orang muslim pertama yang pernah menginap di kediamannya selama hidupnya. Demi mewujudkan semua itu dia rela tidur di masjid, sekolah, tempat umum, hingga di rumah seseorang yang menawarkannya tempat.



Dia menjelaskan ketika sampai di Serbia orang banyak justru keluar rumah dan memberikannya topi atau kaus kaki. Ketakutan justru datang dari orang lain mengingatkan Hadzic untuk berhati-hati melintasi negara mayoritas penduduknya Nasrani seperti Serbia dan Bulgaria. Saya hanya takut Tuhan, dan sesampainya di Makkah saya akan berdoa untuk kita semua,” ujar Hadzic. Namun saya katakan pada Anda jika sudah menjadi kehendak Tuhan maka saya memasuki Asia hari ini dan Suriah. “Saya putuskan untuk berjalan kaki ke Arab saudi dengan uang Rp 2,5 juta,” ujarnya. Dia mengatakan rela berjalan kaki sampai sejauh itu lantaran tidak memiliki cukup uang.



Senad Hadzic (47 tahun) asal Bosnia Herzegovina rela berjalan kaki sejauh 5800 kilometer menuju Kota Makkah, Arab Saudi. Tujuannya sebagai seorang muslim sama dengan pemeluk Islam lainnya di seluruh dunia yakni menunaikan ibadah Haji.



Senin (22/10), Hadzic diperkirakan sampai di Makkah pekan ini. Dia berangkat dari Kota Banovici, sebelah timur laut Bosnia Herzegovina, Desember tahun lalu. Selama perjalanannya itu dia melewati enam negara, termasuk Turki, Yordania, dan Suriah, sebelum akhirnya memasuki Arab Saudi.



Hadzic sempat menjelaskan tujuannya itu di situs berbagi video Youtube. Dia mengatakan rela berjalan kaki sampai sejauh itu lantaran tidak memiliki cukup uang. “Saya putuskan untuk berjalan kaki ke Arab saudi dengan uang Rp 2,5 juta,” ujarnya.



Demi mewujudkan semua itu dia rela tidur di masjid, sekolah, tempat umum, hingga di rumah seseorang yang menawarkannya tempat. Ketika seseorang menanyakan apakah dirinya tidak takut saat melewati tempat berbahaya dan rawan konflik, Hadzic menjawab, “Kenapa harus takut jika Tuhan bersama saya,” katanya.



Ketakutan justru datang dari orang lain mengingatkan Hadzic untuk berhati-hati melintasi negara mayoritas penduduknya Nasrani seperti Serbia dan Bulgaria. Mereka takut terjadi sesuatu pada lelaki itu. Dia menjelaskan ketika sampai di Serbia orang banyak justru keluar rumah dan memberikannya topi atau kaus kaki. Bahkan, pada suatu hari seorang profesor asal Serbia mengundang dirinya untuk tinggal di rumahnya.



Sebagai seorang Kristen profesor itu menjelaskan pada Hadzic dia merupakan orang muslim pertama yang pernah menginap di kediamannya selama hidupnya. “Perjalanan ini memang memiliki sejuta masalah. Namun saya katakan pada Anda jika sudah menjadi kehendak Tuhan maka saya memasuki Asia hari ini dan Suriah. Saya tidak takut dengan mobil lapis baja atau peluru. Saya hanya takut Tuhan, dan sesampainya di Makkah saya akan berdoa untuk kita semua,” ujar Hadzic.



Setiap tahun seluruh umat muslim dari seluruh dunia menunaikan ibadah Haji. Islam memang mewajibkan umatnya mampu secara jasmani dan rohani untuk menunaikan rukun Islam kelima itu.(merdeka)

Senin, 04 November 2013

PEREMPUAN HUJAN

Namaku Raina. Gadis yang terlahir diantara lebatnya hujan di belantara beton. Suara tangisanku pecah diantara ketakutan abah dan emak akan musibah banjir yang konon kabarnya mencapai pinggang orang dewasa. Mungkin itulah sebabnya orangtuaku memberi nama Raina. Rain yang berarti hujan. Hujan yang selalu mengingatkanku pada mereka. Hujan yang membawa kabar bahagia pada orang-orang terkasihku, namun hujan pula yang membawa kabar buruk untukku. Hujan tidak pernah lekang dari kenangan di mataku.

Hari itu langit hitam pekat, angin berselancar dengan riuhnya di depan rumah. Lima menit kemudian butir-butir kristal bening jatuh menimpa rumah yang beratapkan seng. Bunyi gemuruh air bersahut-sahutan menimbulkan suara yang membuat bulu romaku merinding. Hujan kali ini sangatlah deras, belum lagi anginnya begitu kencang membuat rumah yang kami tempati bergoyang. Abah belum pulang juga dari tempat kerjanya. Biasanya jika pukul empat sore ayah telah sampai di rumah. Namun kali ini abah belum menampakkan batang hidungnya. Seperti biasa jika hujan turun aku dan emak pasti cemas, karena rumah kami berada di bantaran sungai. Semoga saja tidak terjadi banjir pikirku.

Tiba-tiba bang Roni, salah satu fasilitator penghijauan di desa datang dengan tergopoh-gopoh ke rumah. Dengan wajah cemas dan ketakutan bang Roni menyampaikan kabar bahwa tanggul di hulu telah jebol dan diperkirakan tidak sampai satu jam akan terjadi banjir bandang. Kami panik seketika, “abah bagaimana, mak?? Tanyaku lirih pada emak.
Emak hanya memandangku dengan wajah tak kalah pias.
“Sabar Nduk, sebentar lagi ayahmu pulang, yuk kita bereskan saja barang-barang penting lainnya” perintah emak padaku.

Dengan dibantu bang Roni kami membereskan barang-barang penting yang sebetulnya tidak layak lagi dikatakan barang mewah. Hanya ijazah SD sampai SMA aku simpan dengan rapi dalam ransel, tak ketinggalan album foto sejak aku dilahirkan sampai foto-foto terakhir bersama abah dan emak setahun yang lalu.
Niung….niung…niung…. bunyi tanda bahaya sayup-sayup terdengar di telingaku.
“Na, Mak, ayuk kita berangkat sekarang. Tidak ada waktu lagi” seru Bang Roni cemas.
“Tapi abah gimana bang?” tanyaku tak kalah cemasnya.
“Tidak ada waktu untuk menunggunya Na, sekarang kita selamatkan diri dulu, mungkin ayahmu sedang terjebak banjir di jalan. Dan boleh jadi dia berada di tempat aman sekarang” ujar bang Roni menenangkan perasaanku.
***
Di pengungsian aku dan emak tidak mampu memejamkan mata. Yang ada dipikiranku hanyalah ingin bertemu ayah, bagaimanapun keadaannya. Makanan yang dikirimkan oleh tim SAR tidak mampu meluncur ke dalam perutku. Sepertinya ada sesuatu yang menghalanginya untuk masuk. Hanya air yang mampu kuteguk.

Seminggu kemudian aku putuskan untuk kembali dari pengungsian. Berada di pengungsian hanya membuat kepalaku makin pening. Aku tiba di rumah dengan penuh pengharapan untuk bertemu abah, namun hanya rumah kosong penuh lumpur yang kudapati. Semua barang-barang telah hanyut terbawa arus banjir seminggu lalu. Tak ada bekas jejak abah di rumah mungkin dia belum pulang hingga hari ini.
***
Sekarang sudah bulan Januari, namun penantianku tak akan berhenti untukmu abah. Di bangku depan rumah aku memandangi rintik-rintik hujan yang jatuh perlahan dari langit, tak ada jaket dan payung, namun aku menikmati sapaan hujan sore ini. Berharap hujan mampu memberi jawaban dimana gerangan abah berada.

Lima tahun sudah musibah banjir melanda, namun kerinduanku akan kehadiran abah tak jua mampu kutepis. Sejak musibah itu, aku mulai mencintai hujan meski kadang ada perasaan sesak yang tiba-tiba menjalar diseluruh persendianku jika teringat akan abah. Aku mulai menikmati indahnya bercengkrama dengan hujan tiap gerimis menapak di halaman rumahku.
Ah, abah andaikan engkau berada di samping ku sekarang pasti kita akan menikmati hujan bersama, seperti waktu aku kecil dulu. Biasanya emak akan berteriak dari dalam rumah, memanggil kami untuk segera mandi sambil menyiapkan pisang goreng kesukaanku.
Masuklah Na, Emakmu menunggu dari tadi di dalam, dia begitu khawatir padamu,” seru bang Roni membuat lamunanku buyar seketika.
“Sejak kapan abang disini?”
“Aku dari tadi berdiri dibelakangmu Na, namun tak berani mengusik keasyikanmu. Tapi sekarang hujan makin deras, yuk buruan masuk rumah”
“Iya bang”
***
Rumah kami sekarang tidak lagi berada dibantaran sungai. Kami pindah setahun yang lalu di sebuah kompleks perumahan sederhana. Setahun sejak kejadian banjir itu aku bergabung di LSM yang dibentuk oleh bang Roni. Sebuah LSM yang bergerak dibidang penghijauan, lewat LSM tersebut aku bertekad tidak akan ada lagi gadis atau siapapun yang akan kehilangan abahnya karena banjir. Banjir yang telah memisahkan aku dan abah masih selalu menyisakan sakit yang dalam di palung hatiku.
“Nduk, menikahlah dengan Roni. Ia begitu menyayangimu. Emak sekarang sudah sakit-sakitan. Mungkin umur emak tidak lama lagi, uhuk..uhuk…” nafas emak makin berat, segera aku sodorkan segelas air untuk emak.
“Ah, emak ngomong apa sih. Aku nggak pantas untuk bang Roni, mak. Aku hanyalah tamatan SMA, gak cocok bersanding dengan bang Roni”ujarku dengan wajah menunduk, berusaha menutupi wajahku yang mungkin memerah.
“Siapa bilang nduk, buktinya dia baru saja melamarmu saat kamu duduk di depan”
“Bener mak?”
“Iyya nduk, dia menitipkan ini” emak menyodorkan kotak mungil berbentuk hati.

Segera kubuka kotak tersebut dan kudapati cincin tersemat dengan indahnya dalam gabus. Ada rasa haru yang tiba-tiba menyeruak dalam hatiku. Sejak pertama bertemu sosoknya telah menarik perhatianku. Sinar mata teduhnya mirip dengan mata abah, dan aku menemui banyak kemiripan karakter antara bang Roni dengan abah. Terima kasih yah bang, semoga sosok abah hidup dalam dirimu dan aku tidak akan merasa kehilangan abah lagi.

TAMAT

Tikus ini Menolong Temannya Saat dimangsa Ular

Mungkin ada yang pernah disakiti teman atau sahabat? Sebagai manusia yang punya keunggulan tertinggi di antara semua mahluk, kita ternyata tetap harus belajar pada naluri hewan. Bahkan pada sepasang tikus putih ini.


Di sebuah kebun binatang, Hangzau Zoo di provinsi Zheijang, China Timur, terjadi pemandangan unik sekaligus mengharukan. Ketika dua ekor tikus putih dimasukkan ke dalam kandang ular untuk makan malam, salah satu tikus tadi langsung didekati ular sebagai santapan pertamanya.

Namun, apa yang terjadi? Teman tikus putih tersebut dengan gagah berani mendekati ular dan menyerang untuk menolong temannya yang sedang dalam bahaya, sekarat dalam mulut ular. Tentu saja tindakan ini teramat nekad, mengingat ular hijau ini adalah jenis ular berbisa. Jadi, bukan saja jauh lebih besar dari ukuran tubuh sang tikus, kekuatan ular ini jauh di atas kelasnya.


Seorang penjaga yang bertugas memberi makan ular ini, menyaksikan dan mengabadikan kejadian tersebut. Ia pun dengan penuh haru mengambil kembali tikus yang menyerang ular pemangsanya. Menurut sang penjaga, tikus ini punya hak untuk memperoleh kesempatan hidup.



Kisah di atas mungkin boleh jadi renungan, begitulah seharusnya kita memperlakukan seorang sahabat, tidak hanya ikut tertawa saat bahagia, tapi juga hadir ketika ia dalam duka dan perlu pertolongan.

sumbe : http://forum.viva.co.id/aneh-dan-lucu/828026-tikus-ini-menolong-temannya-saat-dimangsa-ular.html

Jumat, 01 November 2013

Pensil dan Pelajaran Hidup



Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat, "Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?"


Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, "Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang Nenek pakai. Nenek harap kamu bisa meniru pensil ini ketika kamu besar nanti," ujar si nenek lagi.


Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai. "Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya," ujar si cucu.


Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini." Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.



"Pertama, pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Tuhan. Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya."

"Kedua, dalam proses menulis, Nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. 

Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik."

"Ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar."


"Keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah berhati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu."


"Kelima, sebuah pensil selalu meninggalkan tanda / goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar, apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini, pasti akan tinggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah berhati-hati dan sadar terhadap semua tindakan."

Minggu, 30 Desember 2012

Kisah Burung Merpati dan Mawar Putih


      Di sebuah hutan yang jauh dari keramaian. Hiduplah seekor burung merpati yang mencintai sekuntum mawar putih. Namun, mawar putih begitu sombong dan tidak menerima cinta burung merpati. Tetapi, mawar putih memberi 1 syarat yang mungkin mustahil dilakukan oleh burung merpati. Karena besarnya cinta sang merpati, diapun menyanggupinya. Syaratnya yaitu, sang merpati harus membuat mawar putih menjadi semerah darah.


       Keesokan harinya, burung merpati datang lagi menemui mawar putih. Disana banyak penduduk hutan yang menyaksikan kejadian tersebut. Sang burung merpati memotong sayapnya dan diteteskannya darah itu ke kelopak mawar putih. Seketika mawar putih berubah menjadi mawar merah.




       Saat itu, mawar putih baru sadar, kalau cintanya burung merpati begitu besar terhadapnya. Dia sangat menyesal akan perbuatannya. Tapi, semuanya sudah terlambat. Sang merpati telah terbujur kaku kehabisan darah. Hanya tinggal penyesalan yang tiada habisnya. 

“Teman, sayangilah orang-orang yang menyayangimu sebelum dia pergi meninggalkanmu”





SENYUM TERAKHIR GURUKU



            Pak Joko, guru bahasa Inggris  yang paling aku benci masuk ke  kelasku. Ketika Pak Joko masuk ke kelasku semua anak menyorakinya. Ya, semua anak. Tidak hanya aku yang membenci Pak Joko tapi semua teman sekelasku. Mungkin bukan hanya teman sekelasku, tapi seluruh siswa di sekolah ini. Kami tidak menyukai Pak Joko karena menurut kami, dia tidak bisa mengajar bahasa Inggris dengan baik. Bayangkan saja, jika dia berbicara, tidak ada satu pun anak yang mengerti apa yang dibicarakannya, apalagi ia berbicara dengan bahasa Inggris. Berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia saja tidak jelas, bagaimana jika ia berbicara bahasa Inggris. Hal itu juga menyebabkan jika ia mengajar, tidak ada satu pun anak yang mau mendengarkannya. Tapi anehnya, ia selalu tersenyum ketika ia disoraki oleh teman-temanku. Ia juga tetap tersenyum melihat anak didiknya ngobrol sendiri ketika ia sedang mengajar         

***
            Hari ini aku bangun kesiangan. Cepat-cepat aku mandi, sarapan dan mengambil sepedaku dan segera menuju ke sekolah. Jalanan sangat macet  dan aku hampir tertabrak motor. Hari ini cukup untuk menghilangkan moodku. Ya, aku adalah orang yang mudah terbawa emosi. Sekali ada peristiwa yang menjengkelkan, itu akan menghilangkan moodku seketika. Sesampainya di sekolah, aku segera memarkir sepedaku dengan terburu-buru. Ketika aku keluar dari tempat parkiran motor, motor Pak Joko masuk ke tempat parkiran itu dengan terburu buru. Aku hampir terserempet. Aku benar-benar marah saat itu, segera saja aku memarahi Pak Joko yang teledor  itu sampai hampir menabrakku.
“Bapak gimana sih!  Ga liat ada saya di sini! Gimana kalo saya beneran terserempet?! Makanya hati-hati dong pak!” omelku. Pak Joko merasa bersalah, dan ia meminta maaf padaku. Tapi aku tidak memaafkannya dan langsung keluar dari tempat parkiran itu dan menuju ke kelasku yang berada di lantai 2.Sampai di kelas, aku baru menyadari bahwa tadi aku tidak melihat senyum Pak Joko. Aku sudah sering memarahi Pak Joko tapi aku selallu melihat dia meminta maaf sambil tersenyum. Tapi tadi aku tidak melihat senyum Pak  Joko. Apa aku terlalu kasar? Sebenarnya tak pantas juga seorang murid membentak seorang guru. Aku harus meminta  maaf pada Pak Joko.


“Len, mau temenin aku ga nemuin Pak Joko?” ajakku pada sahabatku, Elena. “Heh? Ngapain? Bukannya kamu benci banget sama Pak Joko?” Tanya Elena “Tapi tadi tuh aku ngebentak Pak Joko, jadi aku merasa bersalah banget, Temenin aku yah, “ pintaku. Elena mengangguk. Aku segera turun ke bawah mencari Pak Joko. Tapi aku tidak menemukannya di mana-mana. Akhrinya aku memutuskan untuk kembali ke kelas karena bel sudah berbunyi. Seperti biasa, setelah berdoa, ada beberapa pengumuman yang disampaikan oleh kepala sekolah lewat speaker.
“Anak-anak yang terkasih, ada sebuah berita duka, istri dari guru kita, Pak Joko harus berpulang kemarin. Semoga Pak Joko ditabahkan hatinya dan tetap semangat mengajari para murid. Anak-anak, mohon doanya ya,” kata ibu Kepala Sekolah lewat speaker. Deg! Aku kaget mendengar berita itu. Pantas tadi aku tidak melihat senyum menghiasi wajah Pak Joko. Aku merasa sangat bersalah, Pak Joko sedang mempunyai masalah besar, tapi aku malah membuat dia semakin tertekan. Saat istirahat aku segera mencari Pak Joko. Akhirnya aku menemukan Pak Joko sedang berada di lapangan basket sekolahku.Ia sedang duduk sendiri dibawah pohon besar sambil mengamati sebuah foto, istrinya, dan anaknya yang tampak sangat bahagia. Dan aku melihat ia sedang menangis. Pak Joko yang selama ini selalu tegar dan tersenyum kini tampak sedang menangis. Aku mendekati Pak Joko tapi tidak menghampirinya. Aku berusaha agar Pak Joko tidak menyadari kehadiranku. Aku mendengar Pak Joko berbicara seperti ini dalam tangisnya, “Anakku, maafkan bapak ya. Bapak gagal menjadi ayah yang baik. Bapak gagal menyembuhkan penyakit ibu. Seandainya Bapak punya uang lebih, pasti bapak akan membawa ibu ke rumah sakit dan mendapat perawatan yang bagus. Bapak juga gagal dalam  karir bapak. Bapak adalah guru yang tidak disukai oleh murid-murid. Setiap pelajaran Bapak selesai, mereka bersorak kegirangan seakan mereka lepas dari penderitaan Tapi kamu telah mengajari bapak untuk tetap terenyum meski di dalam hati bapak, bapak seringmenangis.”
  

            Aku hampir menangis mendengar perkataan Pak Joko. Ternyata, dibalik senyum Pak Joko, Pak joko mempunyai masalah yang besar. Aku merasa bersalah ketika aku menyoraki Pak Joko. Lalu, aku menghampiri Pak Joko, dan berkata, “Pak, maafkan saya tadi telah membentak  Bapak.” Pak Joko cepat-cepat menghapus air matanya. “Sudah, tidak apa-apa. Itu semua juga karena salah saya. Bel sudah berbunyi. Cepat masuk, jangan terlambat masuk kelas,” kata Pak Joko. Aku segera berlari menuju ke kelas. Segera aku menceritakan kisah Pak Joko kepada teman-temanku. Mereka merasa bersalah atas perilaku mereka yang sering menyakiti hati Pak Joko. Akhirnya mereka berencana untuk meminta maaf kepada Pak Joko besok.

***

            Keesokan harinya kami mendengar kabar bahwa Pak Joko telah meninggal dunia bersama anaknya yang juga sedang sakit. Teman-temanku menangis mendengar kabar itu terlebih aku. Kami belum sempat meminta maaf kepada Pak Joko, tapi Pak Joko telah meninggalkan kami. Katanya Pak Joko meninggal karena tak sanggup menghadapi cobaan hidup. Tidak, Pak Joko tidak bunuh diri. Aku tahu Pak Joko adalah pria yang tegar. Ia meninggal karena stress tingkat tinggi karena istrinya meninggal. Di tambah lagi beberapa saat setelah kepergian istrinya, anak semata wayangnya juga meninggal karena sakit yang parah. Pak JoKo pun akhirnya jatuh sakit, tapi ia tidak mau berobat ke dokter. Ia berpikir bahwa ia sudah gagal dalam hidup ini. Ia sudah tidak punya siapa-siapa, buat apa ia hidup. Mungkin Pak Joko juga berpikir bahwa murid-muridnya akan senang jika ia mati, tapi TIDAK bagi kami. Kami telah menyesal dan kami sebenarnya menyayangimu, Pak Joko. Kami juga akan selalu mengingat senyummu, Pak Joko. We love you, Pak Joko. Pak Joko adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi kami dan juga negeri ini .


Tampilkan postingan dengan label Sepenggal Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepenggal Cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 November 2013

Subhanallah, Orang Ini Berjalan Ribuan Kilometer Untuk Naik Haji

0 komentar




Tujuannya sebagai seorang muslim sama dengan pemeluk Islam lainnya di seluruh dunia yakni menunaikan ibadah Haji. Setiap tahun seluruh umat muslim dari seluruh dunia menunaikan ibadah Haji. Dia berangkat dari Kota Banovici, sebelah timur laut Bosnia Herzegovina, Desember tahun lalu. Selama perjalanannya itu dia melewati enam negara, termasuk Turki, Yordania, dan Suriah, sebelum akhirnya memasuki Arab Saudi. Sebagai seorang Kristen profesor itu menjelaskan pada Hadzic dia merupakan orang muslim pertama yang pernah menginap di kediamannya selama hidupnya. Demi mewujudkan semua itu dia rela tidur di masjid, sekolah, tempat umum, hingga di rumah seseorang yang menawarkannya tempat.



Dia menjelaskan ketika sampai di Serbia orang banyak justru keluar rumah dan memberikannya topi atau kaus kaki. Ketakutan justru datang dari orang lain mengingatkan Hadzic untuk berhati-hati melintasi negara mayoritas penduduknya Nasrani seperti Serbia dan Bulgaria. Saya hanya takut Tuhan, dan sesampainya di Makkah saya akan berdoa untuk kita semua,” ujar Hadzic. Namun saya katakan pada Anda jika sudah menjadi kehendak Tuhan maka saya memasuki Asia hari ini dan Suriah. “Saya putuskan untuk berjalan kaki ke Arab saudi dengan uang Rp 2,5 juta,” ujarnya. Dia mengatakan rela berjalan kaki sampai sejauh itu lantaran tidak memiliki cukup uang.



Senad Hadzic (47 tahun) asal Bosnia Herzegovina rela berjalan kaki sejauh 5800 kilometer menuju Kota Makkah, Arab Saudi. Tujuannya sebagai seorang muslim sama dengan pemeluk Islam lainnya di seluruh dunia yakni menunaikan ibadah Haji.



Senin (22/10), Hadzic diperkirakan sampai di Makkah pekan ini. Dia berangkat dari Kota Banovici, sebelah timur laut Bosnia Herzegovina, Desember tahun lalu. Selama perjalanannya itu dia melewati enam negara, termasuk Turki, Yordania, dan Suriah, sebelum akhirnya memasuki Arab Saudi.



Hadzic sempat menjelaskan tujuannya itu di situs berbagi video Youtube. Dia mengatakan rela berjalan kaki sampai sejauh itu lantaran tidak memiliki cukup uang. “Saya putuskan untuk berjalan kaki ke Arab saudi dengan uang Rp 2,5 juta,” ujarnya.



Demi mewujudkan semua itu dia rela tidur di masjid, sekolah, tempat umum, hingga di rumah seseorang yang menawarkannya tempat. Ketika seseorang menanyakan apakah dirinya tidak takut saat melewati tempat berbahaya dan rawan konflik, Hadzic menjawab, “Kenapa harus takut jika Tuhan bersama saya,” katanya.



Ketakutan justru datang dari orang lain mengingatkan Hadzic untuk berhati-hati melintasi negara mayoritas penduduknya Nasrani seperti Serbia dan Bulgaria. Mereka takut terjadi sesuatu pada lelaki itu. Dia menjelaskan ketika sampai di Serbia orang banyak justru keluar rumah dan memberikannya topi atau kaus kaki. Bahkan, pada suatu hari seorang profesor asal Serbia mengundang dirinya untuk tinggal di rumahnya.



Sebagai seorang Kristen profesor itu menjelaskan pada Hadzic dia merupakan orang muslim pertama yang pernah menginap di kediamannya selama hidupnya. “Perjalanan ini memang memiliki sejuta masalah. Namun saya katakan pada Anda jika sudah menjadi kehendak Tuhan maka saya memasuki Asia hari ini dan Suriah. Saya tidak takut dengan mobil lapis baja atau peluru. Saya hanya takut Tuhan, dan sesampainya di Makkah saya akan berdoa untuk kita semua,” ujar Hadzic.



Setiap tahun seluruh umat muslim dari seluruh dunia menunaikan ibadah Haji. Islam memang mewajibkan umatnya mampu secara jasmani dan rohani untuk menunaikan rukun Islam kelima itu.(merdeka)

Senin, 04 November 2013

PEREMPUAN HUJAN

0 komentar
Namaku Raina. Gadis yang terlahir diantara lebatnya hujan di belantara beton. Suara tangisanku pecah diantara ketakutan abah dan emak akan musibah banjir yang konon kabarnya mencapai pinggang orang dewasa. Mungkin itulah sebabnya orangtuaku memberi nama Raina. Rain yang berarti hujan. Hujan yang selalu mengingatkanku pada mereka. Hujan yang membawa kabar bahagia pada orang-orang terkasihku, namun hujan pula yang membawa kabar buruk untukku. Hujan tidak pernah lekang dari kenangan di mataku.

Hari itu langit hitam pekat, angin berselancar dengan riuhnya di depan rumah. Lima menit kemudian butir-butir kristal bening jatuh menimpa rumah yang beratapkan seng. Bunyi gemuruh air bersahut-sahutan menimbulkan suara yang membuat bulu romaku merinding. Hujan kali ini sangatlah deras, belum lagi anginnya begitu kencang membuat rumah yang kami tempati bergoyang. Abah belum pulang juga dari tempat kerjanya. Biasanya jika pukul empat sore ayah telah sampai di rumah. Namun kali ini abah belum menampakkan batang hidungnya. Seperti biasa jika hujan turun aku dan emak pasti cemas, karena rumah kami berada di bantaran sungai. Semoga saja tidak terjadi banjir pikirku.

Tiba-tiba bang Roni, salah satu fasilitator penghijauan di desa datang dengan tergopoh-gopoh ke rumah. Dengan wajah cemas dan ketakutan bang Roni menyampaikan kabar bahwa tanggul di hulu telah jebol dan diperkirakan tidak sampai satu jam akan terjadi banjir bandang. Kami panik seketika, “abah bagaimana, mak?? Tanyaku lirih pada emak.
Emak hanya memandangku dengan wajah tak kalah pias.
“Sabar Nduk, sebentar lagi ayahmu pulang, yuk kita bereskan saja barang-barang penting lainnya” perintah emak padaku.

Dengan dibantu bang Roni kami membereskan barang-barang penting yang sebetulnya tidak layak lagi dikatakan barang mewah. Hanya ijazah SD sampai SMA aku simpan dengan rapi dalam ransel, tak ketinggalan album foto sejak aku dilahirkan sampai foto-foto terakhir bersama abah dan emak setahun yang lalu.
Niung….niung…niung…. bunyi tanda bahaya sayup-sayup terdengar di telingaku.
“Na, Mak, ayuk kita berangkat sekarang. Tidak ada waktu lagi” seru Bang Roni cemas.
“Tapi abah gimana bang?” tanyaku tak kalah cemasnya.
“Tidak ada waktu untuk menunggunya Na, sekarang kita selamatkan diri dulu, mungkin ayahmu sedang terjebak banjir di jalan. Dan boleh jadi dia berada di tempat aman sekarang” ujar bang Roni menenangkan perasaanku.
***
Di pengungsian aku dan emak tidak mampu memejamkan mata. Yang ada dipikiranku hanyalah ingin bertemu ayah, bagaimanapun keadaannya. Makanan yang dikirimkan oleh tim SAR tidak mampu meluncur ke dalam perutku. Sepertinya ada sesuatu yang menghalanginya untuk masuk. Hanya air yang mampu kuteguk.

Seminggu kemudian aku putuskan untuk kembali dari pengungsian. Berada di pengungsian hanya membuat kepalaku makin pening. Aku tiba di rumah dengan penuh pengharapan untuk bertemu abah, namun hanya rumah kosong penuh lumpur yang kudapati. Semua barang-barang telah hanyut terbawa arus banjir seminggu lalu. Tak ada bekas jejak abah di rumah mungkin dia belum pulang hingga hari ini.
***
Sekarang sudah bulan Januari, namun penantianku tak akan berhenti untukmu abah. Di bangku depan rumah aku memandangi rintik-rintik hujan yang jatuh perlahan dari langit, tak ada jaket dan payung, namun aku menikmati sapaan hujan sore ini. Berharap hujan mampu memberi jawaban dimana gerangan abah berada.

Lima tahun sudah musibah banjir melanda, namun kerinduanku akan kehadiran abah tak jua mampu kutepis. Sejak musibah itu, aku mulai mencintai hujan meski kadang ada perasaan sesak yang tiba-tiba menjalar diseluruh persendianku jika teringat akan abah. Aku mulai menikmati indahnya bercengkrama dengan hujan tiap gerimis menapak di halaman rumahku.
Ah, abah andaikan engkau berada di samping ku sekarang pasti kita akan menikmati hujan bersama, seperti waktu aku kecil dulu. Biasanya emak akan berteriak dari dalam rumah, memanggil kami untuk segera mandi sambil menyiapkan pisang goreng kesukaanku.
Masuklah Na, Emakmu menunggu dari tadi di dalam, dia begitu khawatir padamu,” seru bang Roni membuat lamunanku buyar seketika.
“Sejak kapan abang disini?”
“Aku dari tadi berdiri dibelakangmu Na, namun tak berani mengusik keasyikanmu. Tapi sekarang hujan makin deras, yuk buruan masuk rumah”
“Iya bang”
***
Rumah kami sekarang tidak lagi berada dibantaran sungai. Kami pindah setahun yang lalu di sebuah kompleks perumahan sederhana. Setahun sejak kejadian banjir itu aku bergabung di LSM yang dibentuk oleh bang Roni. Sebuah LSM yang bergerak dibidang penghijauan, lewat LSM tersebut aku bertekad tidak akan ada lagi gadis atau siapapun yang akan kehilangan abahnya karena banjir. Banjir yang telah memisahkan aku dan abah masih selalu menyisakan sakit yang dalam di palung hatiku.
“Nduk, menikahlah dengan Roni. Ia begitu menyayangimu. Emak sekarang sudah sakit-sakitan. Mungkin umur emak tidak lama lagi, uhuk..uhuk…” nafas emak makin berat, segera aku sodorkan segelas air untuk emak.
“Ah, emak ngomong apa sih. Aku nggak pantas untuk bang Roni, mak. Aku hanyalah tamatan SMA, gak cocok bersanding dengan bang Roni”ujarku dengan wajah menunduk, berusaha menutupi wajahku yang mungkin memerah.
“Siapa bilang nduk, buktinya dia baru saja melamarmu saat kamu duduk di depan”
“Bener mak?”
“Iyya nduk, dia menitipkan ini” emak menyodorkan kotak mungil berbentuk hati.

Segera kubuka kotak tersebut dan kudapati cincin tersemat dengan indahnya dalam gabus. Ada rasa haru yang tiba-tiba menyeruak dalam hatiku. Sejak pertama bertemu sosoknya telah menarik perhatianku. Sinar mata teduhnya mirip dengan mata abah, dan aku menemui banyak kemiripan karakter antara bang Roni dengan abah. Terima kasih yah bang, semoga sosok abah hidup dalam dirimu dan aku tidak akan merasa kehilangan abah lagi.

TAMAT

Tikus ini Menolong Temannya Saat dimangsa Ular

0 komentar
Mungkin ada yang pernah disakiti teman atau sahabat? Sebagai manusia yang punya keunggulan tertinggi di antara semua mahluk, kita ternyata tetap harus belajar pada naluri hewan. Bahkan pada sepasang tikus putih ini.


Di sebuah kebun binatang, Hangzau Zoo di provinsi Zheijang, China Timur, terjadi pemandangan unik sekaligus mengharukan. Ketika dua ekor tikus putih dimasukkan ke dalam kandang ular untuk makan malam, salah satu tikus tadi langsung didekati ular sebagai santapan pertamanya.

Namun, apa yang terjadi? Teman tikus putih tersebut dengan gagah berani mendekati ular dan menyerang untuk menolong temannya yang sedang dalam bahaya, sekarat dalam mulut ular. Tentu saja tindakan ini teramat nekad, mengingat ular hijau ini adalah jenis ular berbisa. Jadi, bukan saja jauh lebih besar dari ukuran tubuh sang tikus, kekuatan ular ini jauh di atas kelasnya.


Seorang penjaga yang bertugas memberi makan ular ini, menyaksikan dan mengabadikan kejadian tersebut. Ia pun dengan penuh haru mengambil kembali tikus yang menyerang ular pemangsanya. Menurut sang penjaga, tikus ini punya hak untuk memperoleh kesempatan hidup.



Kisah di atas mungkin boleh jadi renungan, begitulah seharusnya kita memperlakukan seorang sahabat, tidak hanya ikut tertawa saat bahagia, tapi juga hadir ketika ia dalam duka dan perlu pertolongan.

sumbe : http://forum.viva.co.id/aneh-dan-lucu/828026-tikus-ini-menolong-temannya-saat-dimangsa-ular.html

Jumat, 01 November 2013

Pensil dan Pelajaran Hidup

0 komentar


Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat, "Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?"


Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, "Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang Nenek pakai. Nenek harap kamu bisa meniru pensil ini ketika kamu besar nanti," ujar si nenek lagi.


Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai. "Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya," ujar si cucu.


Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini." Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.



"Pertama, pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Tuhan. Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya."

"Kedua, dalam proses menulis, Nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. 

Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik."

"Ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar."


"Keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah berhati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu."


"Kelima, sebuah pensil selalu meninggalkan tanda / goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar, apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini, pasti akan tinggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah berhati-hati dan sadar terhadap semua tindakan."

Minggu, 30 Desember 2012

Kisah Burung Merpati dan Mawar Putih

0 komentar

      Di sebuah hutan yang jauh dari keramaian. Hiduplah seekor burung merpati yang mencintai sekuntum mawar putih. Namun, mawar putih begitu sombong dan tidak menerima cinta burung merpati. Tetapi, mawar putih memberi 1 syarat yang mungkin mustahil dilakukan oleh burung merpati. Karena besarnya cinta sang merpati, diapun menyanggupinya. Syaratnya yaitu, sang merpati harus membuat mawar putih menjadi semerah darah.


       Keesokan harinya, burung merpati datang lagi menemui mawar putih. Disana banyak penduduk hutan yang menyaksikan kejadian tersebut. Sang burung merpati memotong sayapnya dan diteteskannya darah itu ke kelopak mawar putih. Seketika mawar putih berubah menjadi mawar merah.




       Saat itu, mawar putih baru sadar, kalau cintanya burung merpati begitu besar terhadapnya. Dia sangat menyesal akan perbuatannya. Tapi, semuanya sudah terlambat. Sang merpati telah terbujur kaku kehabisan darah. Hanya tinggal penyesalan yang tiada habisnya. 

“Teman, sayangilah orang-orang yang menyayangimu sebelum dia pergi meninggalkanmu”





SENYUM TERAKHIR GURUKU

0 komentar


            Pak Joko, guru bahasa Inggris  yang paling aku benci masuk ke  kelasku. Ketika Pak Joko masuk ke kelasku semua anak menyorakinya. Ya, semua anak. Tidak hanya aku yang membenci Pak Joko tapi semua teman sekelasku. Mungkin bukan hanya teman sekelasku, tapi seluruh siswa di sekolah ini. Kami tidak menyukai Pak Joko karena menurut kami, dia tidak bisa mengajar bahasa Inggris dengan baik. Bayangkan saja, jika dia berbicara, tidak ada satu pun anak yang mengerti apa yang dibicarakannya, apalagi ia berbicara dengan bahasa Inggris. Berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia saja tidak jelas, bagaimana jika ia berbicara bahasa Inggris. Hal itu juga menyebabkan jika ia mengajar, tidak ada satu pun anak yang mau mendengarkannya. Tapi anehnya, ia selalu tersenyum ketika ia disoraki oleh teman-temanku. Ia juga tetap tersenyum melihat anak didiknya ngobrol sendiri ketika ia sedang mengajar         

***
            Hari ini aku bangun kesiangan. Cepat-cepat aku mandi, sarapan dan mengambil sepedaku dan segera menuju ke sekolah. Jalanan sangat macet  dan aku hampir tertabrak motor. Hari ini cukup untuk menghilangkan moodku. Ya, aku adalah orang yang mudah terbawa emosi. Sekali ada peristiwa yang menjengkelkan, itu akan menghilangkan moodku seketika. Sesampainya di sekolah, aku segera memarkir sepedaku dengan terburu-buru. Ketika aku keluar dari tempat parkiran motor, motor Pak Joko masuk ke tempat parkiran itu dengan terburu buru. Aku hampir terserempet. Aku benar-benar marah saat itu, segera saja aku memarahi Pak Joko yang teledor  itu sampai hampir menabrakku.
“Bapak gimana sih!  Ga liat ada saya di sini! Gimana kalo saya beneran terserempet?! Makanya hati-hati dong pak!” omelku. Pak Joko merasa bersalah, dan ia meminta maaf padaku. Tapi aku tidak memaafkannya dan langsung keluar dari tempat parkiran itu dan menuju ke kelasku yang berada di lantai 2.Sampai di kelas, aku baru menyadari bahwa tadi aku tidak melihat senyum Pak Joko. Aku sudah sering memarahi Pak Joko tapi aku selallu melihat dia meminta maaf sambil tersenyum. Tapi tadi aku tidak melihat senyum Pak  Joko. Apa aku terlalu kasar? Sebenarnya tak pantas juga seorang murid membentak seorang guru. Aku harus meminta  maaf pada Pak Joko.


“Len, mau temenin aku ga nemuin Pak Joko?” ajakku pada sahabatku, Elena. “Heh? Ngapain? Bukannya kamu benci banget sama Pak Joko?” Tanya Elena “Tapi tadi tuh aku ngebentak Pak Joko, jadi aku merasa bersalah banget, Temenin aku yah, “ pintaku. Elena mengangguk. Aku segera turun ke bawah mencari Pak Joko. Tapi aku tidak menemukannya di mana-mana. Akhrinya aku memutuskan untuk kembali ke kelas karena bel sudah berbunyi. Seperti biasa, setelah berdoa, ada beberapa pengumuman yang disampaikan oleh kepala sekolah lewat speaker.
“Anak-anak yang terkasih, ada sebuah berita duka, istri dari guru kita, Pak Joko harus berpulang kemarin. Semoga Pak Joko ditabahkan hatinya dan tetap semangat mengajari para murid. Anak-anak, mohon doanya ya,” kata ibu Kepala Sekolah lewat speaker. Deg! Aku kaget mendengar berita itu. Pantas tadi aku tidak melihat senyum menghiasi wajah Pak Joko. Aku merasa sangat bersalah, Pak Joko sedang mempunyai masalah besar, tapi aku malah membuat dia semakin tertekan. Saat istirahat aku segera mencari Pak Joko. Akhirnya aku menemukan Pak Joko sedang berada di lapangan basket sekolahku.Ia sedang duduk sendiri dibawah pohon besar sambil mengamati sebuah foto, istrinya, dan anaknya yang tampak sangat bahagia. Dan aku melihat ia sedang menangis. Pak Joko yang selama ini selalu tegar dan tersenyum kini tampak sedang menangis. Aku mendekati Pak Joko tapi tidak menghampirinya. Aku berusaha agar Pak Joko tidak menyadari kehadiranku. Aku mendengar Pak Joko berbicara seperti ini dalam tangisnya, “Anakku, maafkan bapak ya. Bapak gagal menjadi ayah yang baik. Bapak gagal menyembuhkan penyakit ibu. Seandainya Bapak punya uang lebih, pasti bapak akan membawa ibu ke rumah sakit dan mendapat perawatan yang bagus. Bapak juga gagal dalam  karir bapak. Bapak adalah guru yang tidak disukai oleh murid-murid. Setiap pelajaran Bapak selesai, mereka bersorak kegirangan seakan mereka lepas dari penderitaan Tapi kamu telah mengajari bapak untuk tetap terenyum meski di dalam hati bapak, bapak seringmenangis.”
  

            Aku hampir menangis mendengar perkataan Pak Joko. Ternyata, dibalik senyum Pak Joko, Pak joko mempunyai masalah yang besar. Aku merasa bersalah ketika aku menyoraki Pak Joko. Lalu, aku menghampiri Pak Joko, dan berkata, “Pak, maafkan saya tadi telah membentak  Bapak.” Pak Joko cepat-cepat menghapus air matanya. “Sudah, tidak apa-apa. Itu semua juga karena salah saya. Bel sudah berbunyi. Cepat masuk, jangan terlambat masuk kelas,” kata Pak Joko. Aku segera berlari menuju ke kelas. Segera aku menceritakan kisah Pak Joko kepada teman-temanku. Mereka merasa bersalah atas perilaku mereka yang sering menyakiti hati Pak Joko. Akhirnya mereka berencana untuk meminta maaf kepada Pak Joko besok.

***

            Keesokan harinya kami mendengar kabar bahwa Pak Joko telah meninggal dunia bersama anaknya yang juga sedang sakit. Teman-temanku menangis mendengar kabar itu terlebih aku. Kami belum sempat meminta maaf kepada Pak Joko, tapi Pak Joko telah meninggalkan kami. Katanya Pak Joko meninggal karena tak sanggup menghadapi cobaan hidup. Tidak, Pak Joko tidak bunuh diri. Aku tahu Pak Joko adalah pria yang tegar. Ia meninggal karena stress tingkat tinggi karena istrinya meninggal. Di tambah lagi beberapa saat setelah kepergian istrinya, anak semata wayangnya juga meninggal karena sakit yang parah. Pak JoKo pun akhirnya jatuh sakit, tapi ia tidak mau berobat ke dokter. Ia berpikir bahwa ia sudah gagal dalam hidup ini. Ia sudah tidak punya siapa-siapa, buat apa ia hidup. Mungkin Pak Joko juga berpikir bahwa murid-muridnya akan senang jika ia mati, tapi TIDAK bagi kami. Kami telah menyesal dan kami sebenarnya menyayangimu, Pak Joko. Kami juga akan selalu mengingat senyummu, Pak Joko. We love you, Pak Joko. Pak Joko adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi kami dan juga negeri ini .